KOPI SERAMPAS, CERITA PERJUANGAN MASYARAKAT ADAT

Kopi Serampas, Cerita Perjuangan Masyarakat Adat
Rona Desa Rantau Kermas
Kopi Serampas, Cerita Perjuangan Masyarakat Adat
Rona Desa Renah Alai

KOPI SERAMPAS adalah salah satu brand Kopi Robusta Merangin yang di produksi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ALAM DEPATI PAYUNG Desa Rantau Kermas Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin. Kata Serampas itu sendiri di ambil dari nama salah satu Marga Masyarakat Adat yang ada di Kabupaten Merangin, yaitu MARGO SERAMPAS yang terdiri dari 5 (lima) Desa yaitu Renah Alai, Tanjung Kasri, Renah Kemumu, Lubuk Mentilin dan Rantau Kermas.

Kehadiran Brand Kopi Serampas ini ternyata memiliki cerita dan sejarah adat yang sangat panjang yang perlu kita ketahui, yang sangat menarik adalah Desa dimana Kopi Serampas ini berasal berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang telah di enclave. Cerita perjuangan Masyarakat Adat Marga Serampas di desa Rantau kermas ini kami kutip dari buku “MENJAGA RIMBA TERAKHIR: Kisah Masyarakat Lokal, Indigenous People, Berjibaku Menjaga Hutan” yang di tulis oleh Mardiyah Chamim.

Marga Serampas dikenal sebagai negeri para pendekar dan dukun masyhur, konon, pada 1960-an, Presiden Sukarno sakit dan mengundang tabib dari Serampas. Sakit Tuan Presiden hilang setelah diobati seorang tabib. Tersiar kabar bahwa Sukarno menawarkan hadiah, sang tabib boleh meminta apa saja yang dia mau. Sang dukun kemudian meminta pembangunan jalan di kampungnya, versi lain menyebut sang dukun meminta hadiah radio. sayang sekali, tak ada catatan untuk memverifikasi kebenaran kisah tersebut. Presiden Sukarno pun belum memenuhi janji pembangunan jalan, jika ini benar hadiah yang diminta sang dukun – mungkin karena agenda pembangunan keburu ditelan gonjang-ganjing politik di pertengahan 1960-an. Yang jelas, jalan menuju Rantau Kermas, 125 Kilometer dari kabupaten Merangin, masih menyedihkan, berbatu bergelombang meski sudah bisa dimasuki mobil dobel gardan.

Rantau Kermas pernah didera bencana besar. Pada 1974, terjadi banjir bandang. Sungai Langkup meluap dahsyat. Sebagian besar warga Rantau Kermas terpaksa pindah ke area mendekati hulu sungai, masih dalam Marga Serampas. Banjir bandang ini terulang kembali pada Maret 2019. Kendati tak sedahsyat peristiwa 1974, banjir yang terakhir ini juga menjebol jembatan.

Bentang alam Rantau Kermas memang luar biasa cantik, sekaligus penuh resiko. Desa ini terletak di lembah yang dikurung pegunungan Bukit Barisan. Ada empat gunung yang membuat lukisan alam di Rantau Kermas, yakni Gunung Masurai, Gunung Nilo, Gunung Sumbing, dan Gunung Garakah. Lalu, jauh di ketinggian bukit di atas Rantau Kermas, terhampar Danau Pauh Depati IV yang seluas 10 hektare. Ikan-ikan berenang sentosa di danau teduh ini.

Kelompok Karo Jayo Tuo menetapkan peraturan adat untuk menjaga hutan. Kepemilikan lahan dibatasi maksimal dua hektare, dan sebagian di antaranya harus ditanami pohon kopi. Peraturan ini yang membuat Rantau Kermas kini di kenal sebagai daerah penghasil kopi di Sumatera.

Memancing di lubuk (perairan) larangan, menebang pohon di hutan larangan, begitu bunyi peraturan adat, didenda 20 gantang beras dan satu ekor kambing. Siapapun yang melanggar harus menjalani sidang adat yang dipimpin depati atau pimpinan adat. Depati inilah yang memegang kata akhir, apakah orang bersangkutan bersalah atau tidak, setelah mendengar keterangan dari berbagai pihak. Sebagai pemegang kata akhir, depati dianggap sebagai orang yang bijaksana dan sangat dihormati di Rantau Kermas.

Sebetulnya, jumlah denda tak terlalu banyak dan bisa dengan mudah dibayar. Yang berat adalah keputusan bersalah dan sanksi itu diumumkan di mimbar sholat Jumat. “semua orang desa jadi tahu. Pengumuman disertai petatah petitih dengan kata-kata menyengat, nak tahan kuping dengernya,” kata Hasan Apede, Kepala Desa Rantau Kermas.

Lalu, bagaiman jika melanggar adalah orang luar desa? “Kalau benar penebangan dilakukan di area hutan adat Karo Jayo Tuo, si pelanggar akan kami jemput. Tak peduli kami harus keluar ongkos, “kata Pak Nova”. “Ini demi menjaga marwah adat kami”. tapi, kalau lokasi penebangan liar itu tidak termasuk wilayah Karo Jayo Tuo, sanksi adat Rantau Kermas tak bisa menjangkau. “Paling-paling”, kami identifikasi orang mana yang biasanya jadi pebalok. Warga rantau Kermas tak boleh menikah dengan kelompok yang sudah terkenal sebagai pelaku pembalakan liar”, kata hasan Apede. “kalau benar serius menikah dengan warga kami, calon pengantin yang dari kel0mpok pembalak itu harus bikin pernyataan tidak akan menebang kayu secara liar.”.

Pada Agustus 2016, sebuah inisiatif internasional Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) datang menawarkan dukungan. Ada beberapa pilihan diajukan, antara lain pengadaan bibit untuk ditanam di hutan dan membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). warga menggelar rapat. “Pengadaan bibit pohon, bisa kami atasi bersama. Kami bisa patungan sendiri, “kata Hasan Apede, Kepala Desa Rantau Kermas. “Tapi, kalau renovasi meningkatkan daya PLTMH, itu yang kami butuh bantuan.”

Persoalannya, waktu yang tersedia tak banyak. Hanya enam bulan tersisa sebelum tahun anggaran MCAI berganti. Maka, dimulailah proyek spartan. “Kami gerakkan semua warga desa, menjamin semua kebutuhan pembangunan tersedia. Ini mimpi kami semua, “kata hasan Apede. Bersama Warsi, masyarakat Rantau Kermas bergegas. Insinyur terbaik didatangkan. Kontraktor dipilih secara serius, yang mau bekerja keras mengejar tenggat. Untuk menjamin kelancaran proyek, kebutuhan material, misalnya batu dan pasir, dipasok dari Rantau Kermas sendiri, yakni Sungai Langkup. “Tak boleh ada yang menghalangi pembangunan, “Kata Hasan Apede.

Akhirnya, Februari 2018, hari bersejarah bagi Rantau Kermas datang. PLTMH Sungai Langkup diresmikan. Pembangkit Listrik bertenaga 41 Megawatt, dengan kapasitas yang digunakan untuk keperluan warga total 25 Megawatt. Rantau kermas pun terang benderang. Semua orang bergembira. “Alhamdulillah, akhirnya desa kami bisa benaran terang, “kata Mustera Wendi, Ketua Pengelola PLTMH Rantau Kermas.